Archive for September, 2010

NAMA                : PRAMUDIPTA ZAHRIYANI

NRP                    : F44100001

LASKAR            : 30

Awalnya saya tidak tertarik dengan Institut Pertanian Bogor, karena identik dengan pertanian. Selain itu, Institut Pertanian Bogor bukanlah universitas yang menjadi tujuan favorit angkatan saya di SMA. Namun saya diyakinkan oleh keluarga untuk memilih IPB. Ternyata salah seorang anggota keluarga saya merupakan lulusan IPB dan beliau sekarang menjadi orang sukses. Beliau meyakinkan saya bahwa di IPB saya dapat meraih cita – cita yang saya inginkan apabila saya bersungguh sungguh. Beliau memaparkan usahanya selama menjadi mahasiswa IPB sampai akhirnya mendapat beasiswa dari IPB kemudian dibiayai kuliah strata-2 nya di Australia. penuturan beliau membuat saya terinspirasi.   saya mencari informasi di internet, saya menemukan bahwa Institut Pertanian bogor memiliki banyak prestasi dan tidak kalah dengan universitas – universitas lain yang ada di Indonesia.

Akhirnya, pada saat PMDK IPB datang ke sekolah, saya dan tiga puluh teman yang lain mencobanya. Namun kendala baru muncul karena ada beberapa orang yang memilih minat jurusan yang sama, padahal itu dapat memperkecil peluang kami untuk masuk ke Institut pertanian Bogor. Setelah diskusi dan sharing selama beberapa hari akhirnya kami berhasil memperoleh keputusan final tanpa merugikan satupun pihak.

Selanjutnya kami juga dihadapkan oleh permasalahan berkas – berkas yang harus dilampirkan. Karena tinggal di asrama, kami kesulitan untuk mengumpulkan persyaratan yang dibutuhkan. Bahkan saya harus bolak balik pulang ke rumah untuk melengkapi berkas.

Tetapi semua itu terbayar lunas ketika pengumuman siswa yang diterima di institut Pertanian Bogor. Alhamdulillah usaya saya tidak sia- sia. Saya berhasil diterima sebagai mahasiswa IPB.

NAMA                : PRAMUDIPTA ZAHRIYANI

NRP                    : F44100001

LASKAR            : 30

Sejarah besar yang mengubah hidupnya diawali pada tanggal 19 juni 1971 saat beliau berusia 28 tahun. Pada saat itu penampilannya masih sempurna tanpa cacat fisik apapun. Ia sedang mengendarai sepeda motor barunya untuk menuju tempat kerjanya sebagai operator rem kereta kabel di San Fransisco.

Pada persimpangan Twenty-sixth dengan South Van Nees, ketika menikung dengan kecepatan 65 mil perjam, Truk besar di depannya mendadak berhenti tanpa diduga. Seketika, untuk menyelamatkan nyawanya, ia memiringkan motornya ke bawah untuk meluncur dengan gesekan menyakitkan yang terasa lama sekali. Dalam usahanya mengurangi kecepatan, ia terperosok ke bawah truk. Tutup tangkinya terlempar dan hal terburuk pun terjadi; bahan bakar mengalir ke luar dan meledak. Akhirnya ia ditolong oleh seorang pengendara mobil yang kebetulan lewat.

Waktu ia sadar kembali, ia sudah terbaring di rumah sakit dengan nyeri yang amat sangat, tak mampu bergerak, dan takut bernapas. Tiga perempat tubuhnya mengalami luka bakar tingkat tiga yang sangat parah. Selama empat bulan berikutnya, ia mendapatkan 13 kali transfusi, 16 kali cangkok kulit, dan berbagai macam operasi lainnya.

Setelah diperbolehkan keluar dari rumah sakit, banyak orang yang mengejek penampilannya. ia masih mendapatkan kasih dan penghiburan dari sahabat-sahabat dan keluarganya, dan dari falsafah pribadinya. Ia tahu bahwa ia tidak usah menanggapi pandangan masyarakat bahwa ia harus berwajah tampan dan sehat supaya dapat berbahagia. Daripada menganggap keadaan ini sebagai suatu kemunduran, ia melihatnya sebagai titik awal. Ia memilih untuk memulai hidup lagi.

Dalam waktu enam bulan setelah kecelakaan itu, ia sudah meneruskan hobinya, menerbangkan pesawat. Ia pindah ke Colorado dan bersama dua orang sahabatnya, mendirikan Vermon Casting Inc. Sebagai presdir, ia membangun perusahaan kecil pembuat tungku kayu yang menjadi perusahaan dengan jumlah pekerja kedua terbesar di Vermont. Kekayaannya meningkat sampai hampir 3 juta dolar. Ia memiliki sebuah rumah model di Victoria yang menyenangkan, pesawat terbang sendiri, perusahaan real estat, sebuah bar, dan dikagumi banyak wanita. Ia berada di puncak dunia sekali lagi.

Pada 11 November 1975, cobaan kembali datang menghampirinya. W.Mitchell bersama empat orang penumpang lain tinggal landas dengan Cessna. Kurang lebih 75 kaki di atas, ia mengurangi tenaga, dan pesawat tersebut jatuh bagai sebuah batu, kembali ke landasan pacunya. Ia mencium bau asap dan berteriak kepada orang-orang lain agar keluar. Karena dilanda rasa takut akan terbakar sekali lagi, ia keluar, dan menemukan bahwa ia tidak dapat menggerakkan kakinya. Sekali lagi ia masuk rumah sakit dan diberitahu bahwa keduabelas ruas tulang belakangnya tak dapat diperbaiki lagi. Ia akan lumpuh selama sisa hidupnya. Meski ia adalah seorang optimis, ia mulai mengalami saat-saat gelap. Ia bertanya-tanya mengapa  semuanya harus terjadi padanya. Ia menanyakan keadilan dunia. Tapi untunglah ia masih mempunyai keyakinan mendalam bahwa ia dapat menciptakan realitanya sendiri dengan memusatkan perhatian pada “apa saja yang dapat dilakukannya”, dan bukannya pada “apa saja yang tidak dapat dilakukannya”.

Ia juga masih mempunyai sahabat-sahabat dan keluarga yang mempercayainya. Ia memilih mengikuti nasihat filsuf Jerman Goethe: “Apapun yang dapat Anda kerjakan, atau Anda mimpikan dapat Anda kerjakan, mulailah itu. Keberanian memiliki kecerdikan, kekuatan, dan keajaiban di dalamnya.” Sebelum kecelakaan, ada puluhan ribu hal yang dapat dikerjakannya. Ia dapat saja menghabiskan sisa hidupnya untuk menyesali sepuluh ribu yang tidak dapat dikerjakannya lagi, tapi sebagai gantinya ia memilih untuk memusatkan perhatian pada sembilan ribu hal yang masih tersisa baginya. Setelah kejadian itu, ia menjadi walikota di tempat tinggalnya selama dua kali masa bakti, mendapatkan pengakuan internasional sebagai aktivis lingkungan, dan mencalonkan diri sebagai anggota Kongres. Ia bekerja sebagai anggota sejumlah dewan direksi, moderator serial siaran televisinya sendiri, dan memberi ceramah profesional kepada ratusan kelompok setiap tahunnya tentang sikap, layanan, dan perubahan.

Dalam ceramah-ceramahnya ia selalu berkata, “Mundurlah, ambillah pandangan yang lebih luas. Anda akan mempunyai peluang untuk menyadari barangkali masalahnya akhirnya bukanlah apa-apa.” Ia selalu mengingatkan pada orang lain bahwa yang penting bukanlah apa yang terjadi pada mereka, melainkan apa yang mereka lakukan terhadap peristiwa itu. Itulah yang paling penting.